bifurkasi
ida.easyjournal.com
"still don't know"
2.4.2009
Metafora
Sebelum ke paris, aku menemukan sebuah metafora "seekor hewan yang tinggal di dalam lubang sebuah pohon yang berada di dalam hutan lebat tetapi matahari kadang menyentuh batang-batangnya. Terkadang dia mengintip keluar, tetapi dia tidak berani untuk meninggalkan lubang kecilnya. Hutan lebat itu adalah dunia lain yang terlalu besar buatnya, dan terlalu bergelimang cahaya."

Berakhirnya kelas atelier oral di alliance francais membuatku menemukan metafora "seekor keong yang berjalan pelan-pelan di sebuah tempat yang asing, terkadang dia mengeluarkan kepalanya tetapi terkadang dia tidak dapat mengeluarkan kepalanya." Saat berjalan menyusuri lorong metro Saint Placide, aku menyadari betapa terbelahnya dunia menjadi kepingan-kepingan kecil, dan aku terseret-seret di dalamnya, kebingungan dengan pola-pola mozaik kepingan-kepingan itu.

Di kelas itu aku selalu duduk dengan Marcel, dari Belanda, dia selalu bergeser agar bisa duduk di sampingku. Dua hari sebelum kursus berakhir, saat kami membahas euthanasia, semua teman-teman lain dari amerika, dan brazil sepakat bahwa belanda adalah negara paling tidak hipokrit dengan menerapkan euthanasia, melegalkan homoseksual, dan bisnis seks komersial yang profesional, juga hukum belanda di anggap paling baik, saat itulah aku baru sadar, aku duduk bersama mantan penjajahku. Pikiranku pun melayang-layang...Negara yang sekarang di puji-puji itu telah menjajah Indonesia 350 tahun. Dan aku yang duduk di sampingnya berhadapan setiap saat dengan warisan penjajahan yang telah tertanam begitu kuatnya, membuat aku kadang merasa seperti hewan di lubang pohon dan keong yang harus memilih mengeluarkan kepala atau tidak... dari sana semua metafora itu berasal. Marcel selalu tersenyum padaku, dan dia bilang akan mengambil kelas malam yang sama denganku saat kelas yang ini berakhir. Apakah dia punya sesuatu yang tiba-tiba menggugahnya meskipun sedikit saat dia sadar ada seorang "indonesia" di kelas itu? Seperti aku yang menyadarinya pada detik-detik terakhir?

Aku bisa dengan sinis bilang, negara belanda dengan segala kemajuannya saat ini, berasal dari darah nenek moyangku yang harus mati mengerjakan rel-rel kereta api agar rempah-rempah mereka dapat lebih banyak dan lebih cepat terangkut sampai ke eropa. Negara yang membawa pergi teknologi tekstil bangsaku dan membuat pabriknya di belanda dan menjual hasilnya di indonesia, dan mematikan tekstil traditional bangsaku. Aku tahu semua itu. Belum lagi kekayaan yang lainnya... mereka sekarang bisa membuat negara dengan memerintah air lautan dengan membuat kota yang seharusnya itu adalah lautan. Tidak terbayangkan...

Entahlah, aku tidak ikut perang kemerdekaan, aku juga tidak merasakan langsung di tindis belanda, tetapi aku sempat membayangkan, jika nenek moyangku melihatku duduk sama rata, membayar sama mahal untuk alliance francais, dan bicara sama lantang jika ada pendapat yang harus dikeluarkan, mungkin mereka akan kaget. Aku membayangkan dulu mereka membungkuk pada belanda, dan sangat takut. Hari terakhir kemarin, entah mengapa, aku ingin membusungkan dadaku lebih tinggi di hadapan marcel... roh-roh nenek moyang mungkin merasukiku...

ida (keong di paris, 31 janvier 2009, bibliotheque keren saint genevieve)
Mengintip dari NH. Dini
Hari terakhir di kelas atelier oral di alliance francais, aku tidak bergairah, karena entah mengapa, 8 kali bertemu mereka cukup memberikan sedikit stabilitas. Aku selalu tidak tahan pada perpisahan. Mungkin topik presentasi yang kubawakan juga mempengaruhi mood-ku. Hari itu kami diminta presentasi seseorang terkenal dari negara masing-masing. David, profesor dari amerika membawakan Hernest Hemingway, Marcel dari belanda membawakan seorang pelukis belanda, Fernanda dari Brasil membawakan pele, pesepak bola, elizabeth dari Australia membawa steve irwing, Joan dari amerika membawakan seorang comedianne dari amerika Steve Martin, Tod dari amerika membawakan legenda John Henry. Dan aku membawakan pengarang tidak terkenal untuk ukuran international: NH. Dini.

Aku ingin membawakan pramudya ananta toer, tetapi NH. Dini adalah sebuah co-inciden. Aku bilang pada mereka: 3 hari yang lalu aku mendapatkan email dari mailling list komunitas perancis yang mencintai indonesia, yang isinya tentang ajakan untuk membantu seorang penulis indonesia yang sedang sakit dan tidak punya biaya. Aku langsung mempraktekkan kata-kata kasar tetapi dalam bentuknya yang paling chic “mince”! Yang diajarkan denys guru bahasaku di AF. Awalnya aku bilang “merde!” alias taik! Itu tidak sopan... mereka terlihat tertarik dengan ceritaku. Aku bilang, saat diberitahu akan presentasi, aku merasa harus membawakan NH. Dini. Lalu aku mencari info tentangnya di internet, dan singkat cerita rupanya NH. Dini pernah punya suami diplomat perancis, dan punya anak dua darinya, dan pernah juga menerjemahkan “la peste” alias sampar karya albert camus. Inti ceritaku adalah NH. Dini pengarang perempuan terkenal di Indonesia dan dia mengangkat realitas kehidupan kaum perempuan di dalam karyanya. Sekarang dia sakit tidak punya biaya dan berniat menjual lukisan-lukisannya agar dapat berobat. Meskipun telah menghasilkan karya dan menjadi terkenal, hal itu tidak dapat menjamin hidupnya. Royaltinya hanya 6 juta (400 euro, kecil banget buat orang dari negara maju) dan di bayar per 6 bulan, itupun masih dipotong pajak 15 persen. Dia tidak ingin menengadahkan tangan minta belas kasihan, karena itu dia menjual lukisannya. Sudah ada tiga yang terjual dengan harga 3 – 4 juta (200-300 euro) dan itu sudah cukup untuk membiayainya beberapa bulan ke depan. Teman-teman dan guruku langsung bilang “le pauvre...” alias “oh, malangnya...oh kasihannya.” ada hotel yang mau membantu untuk memamerkan lukisan dini tetapi hotel itu minta komisi 30 persen dari hasil penjualan lukisan. Kawan-kawan dan guruku naik pitam semua!

Aku menutup presentasiku dengan mengutip kata-kata NH. Dini, bahwa di indonesia, hidup menjadi penulis itu sangat tidak bisa diandalkan untuk hidup. Sastra seperti sesuatu yang “spiritual” di indonesia dibandingkan “komersial.” dan hal ini akan membuat kesusteraan indonesia mandeg.

Teman-temanku lama terpekur... dan aku kembali masuk ke dalam cangkang keongku... merasa jengkel telah menceritakan hal itu, karena rasanya aku seperti minta dikasihani. Tidak! Aku hanya ingin menceritakan sesuatu yang menggugah perasaanku sendiri. Denys bilang, “ida, kamu bisa mengusahakan di perancis mencari bantuan untuknya, orang perancis sangat baik hati dan perhatian untuk hal-hal seperti ini” panjang dia bicara, dan aku tidak mau mendengarnya... that is not the point. NH Dini adalah portrait umum yang mewakili semua penulis lain, cendikiawan lain, researcher lain, dan semua hal-hal terkait intelektual lain yang tidak dihargai di indonesia. Mereka lebih menghargai dewi persik, dan cinta laura... yang hidup bergelimang cahaya tanpa memeras otak sebanyak cendikiawan lakukan dan waktu yang banyak telah dikorbankan bahkan seumur hidup mereka...

Menolong NH Dini dengan uang hanya seperti memberikan makanan hari ini bagi orang miskin, besoknya dia akan kelaparan lagi... aku tidak pada posisi ingin dan dapat membantu dengan uang. Aku berpikir sesuatu yang beyond “money”. Aku tahu, aku dalam perjalanan membentuk sesuatu... setidaknya pikiran-pikiranku sendiri!

Dan aku masuk lagi ke dalam cangkangku, berjalan pulang, kelas sudah berakhir. Fernanda besok kembali ke brasil, yang amerika akan tetap berjalan tegak dengan gagahnya dan penuh percaya diri, marcel suatu hari akan pulang ke belanda... dan aku pulang ke metro porte de clignancourt dan bertanya-tanya, kemana lagi aku akan tersesat dalam hidup ini...

ida (kupu-kupu kayu yang terbang di paris, 31 januari 2009) perpustakaan saint genevieve.
1.18.2009
Bertemu dia lagi
Ajaib, aku bertemu lagi dengan Simone de Beauvoir di kelas Ecrire scientific di Relais International Cite Universite. Selama 3 bulan ke depan kami akan membahas cara berpikir orang-orang besar perancis dan di mulai dengan Simone de Beauvoir (mungkin hanya Simone) dan bagaimana mereka menuangkannya dalam struktur tulisan, dan mengembangkan pemikiran-pemikirannya. Terdengar berat, tetapi memang kenyataannya berat. Aku sempat menganalisa, mengapa Madame Brutin memilih seorang “Simone de Beauvoir?” barangkali dia termasuk seorang feminist, atau kemungkinan lainnya dia seorang eksistensialist seperti Simone. Entahlah... mungkin suatu saat aku akan tahu mengapa.

Yang pasti selama dua jam kami meneliti teks pendahuluan buku simone “la deuxieme sex” or in english “second sex.” Buku ini sempat aku baca mungkin 5 tahun lalu, dan mungkin memang merubah banyak struktur berpikirku...hehehe...jujur, buku itu berbahaya, menggoncangkan pondasi apapun yang orang punya... senangnya bahwa teman-teman baruku di kelas workshop ini yang dari berbagai negara dan mayoritas doctoral student bahkan ada yang post-doct belum pernah membaca buku simone, dan aku sudah melalap habis 2 bukunya yang tebal-tebal dan satu autobiographie-nya dulu bahkan aku masih di negara yang jauh bernama Indonesia.

teks itu terdiri hanya satu lembar, tidak panjang, tetapi pembahasannya panjang sekali. Madame Brutin memperlihatkan bagaimana pemilihan kata-kata yang tepat bisa membuat kesan yang sangat kuat, dan bagaimana implikasi double adjectif, membuat tulisan simone begitu hidup. Juga bagaimana cara dia memulai bukunya yang tebal, dengan memilih introduction yang tepat kemudian membuat pertanyaan yang memperlihatkan kita plan atau struktur buku-nya ke belakang. Benar-benar “atelier/workshop” yang sangat menarik. Mungkin karena faktor Simone juga...

akhirnya kemudian kami diminta mencoba membuat tulisan yang mirip dengan cara simone membuat pendahuluannya. Kami diminta menuliskan stereotype perempuan selain yang disebutkan oleh Simone, dengan memakai double adjectif. Peserta atelier dari mexico yang cerewet sekali, dan sangat percaya diri, bahkan hampir kupikir dia mungkin mabok, berkomentar, bahwa teks simone tidak relevan dengan dunia jaman sekarang... dan semua yang lain hampir mengiyakan. Aku hampir saja berkomentar, bahwa di dunia barat, mungkin bisa dikatakan begitu, tetapi banyak perempuan di belahan dunia lain yang terperangkap di dalam buku Simone, dengan kata lain, kehidupan mereka persis seperti penggambaran simone saat tahun 1970-an itu... untungnya pembahasan teks simone tetap dilanjutkan, padahal aku sudah siap protes. Hehehe...

sulit sekali membuat tugas itu, karena bahkan bahasa perancisku strukturnya masih kacau balau, apalagi harus mencari vocabulary jitu, yang orang perancis saja belum tentu dapat. Tetapi the show must go on... dan aku melihat betapa jauhnya posisi perempuan di barat dan di timur dari teks teman-temanku... mereka sudah membahas aspek organisasi, dll. Teks-ku begitu sederhana dan rasanya aneh sendiri : “di indonesia, ketika kita mendengar kata “perempuan” maka akan segera muncul gambaran di benak kita “panci mendidih yang isinya hampir tumpah, serbet yang menggantung, piring-piring kotor, cucian pakaian, sapu dan debu-debu di jendela dan di sudut-sudut ruangan.”
kita akan segera membayangkan latar belakangnya yaitu dapur dan dalam rumah.
perempuan tidak pernah keluar dari wilayah domestik ini, bahkan di dalam pikiran kita. Apakah di kehidupan nyata mereka tetap di sana?”

tidak bagus, tetapi itulah yang terpikir saat itu di kepalaku, dan ternyata sangat berbeda dengan stereotype perempuan di dalam kepala kawan-kawanku yang berasal dari negara maju. Aku ingat di kelas atelier oral di alliance francais, teman-teman perempuan dengan normalnya bilang bahwa semua pekerjaan rumah tangga mereka bagi dengan suami mereka, dan itu normal banget.

Lama aku baru sadar, madame brutin dengan canggihnya sudah mengetahui siapa kami satu persatu dengan exercise sederhana itu... Ini menunjukkan siapa kamu, dan bagaimana kamu memandang perempuan, juga kondisi perempuan yang lekat dengan kamu.

dan sedihnya, di paris, aku masih terperangkap dalam ruangan sempit yang telah terbentuk oleh waktu jauh di belakangku... bahwa aku meskipun student doctorat di negara maju, tetap saja seorang perempuan dari Indonesia yang telah terkonstruksi sedemikian kuatnya, sehingga aku tidak bisa berpikir hal lain selain yang kutulis tadi...

ini persoalan tidak sederhana. Tulisan di atas setelah kupikir-pikir lagi, aku tahu itu mewakili ketakutan dan harapanku, rasionalitas dan mimpiku, penerimaan dan pemberontakanku. Dua sisi-sisi yang sangat berlawanan...aku tahu simone adalah pembenaran apa yang sudah aku punya... tidak karena aku membaca dia lalu aku harus berpikir seperti dia, toh aku yang memilih membaca dia, bukan dia yang memilihku untuk membacanya... aku selalu punya pilihan untuk membaca novel Fredy S daripada membacanya. Perancis adalah bagian dari kebingungan besar, memberikan kesadaran bahwa beberapa tahun di paris, sejauh mana kamu akan melangkah? Dan hidupmu selanjutnya akan di Indonesia, dan konstruksi sosial menunggu-mu di sana, dengan dapur dan rumah yang sepenuhnya urusanmu. Ruanganmu sudah ditentukan berabad-abad yang lalu... perancis beberapa tahun, mungkin tidak akan menambah lebar ruang gerakmu... kamu mungkin pulang dengan daya analisa yang lebih baik, dengan gelar tidak penting itu, tetapi tidak akan membuat lelaki di indonesia serta merta akan menganggap normal mencuci piring, atau menyapu rumah...

bukan persoalan tidak suka atau suka mengerjakan kegiatan domestik, tetapi semata-mata karena itulah yang ditentukan oleh masyarakat untukmu. Ada banyak gradasi, tidak semua hitam putih bahwa laki-laki tidak pernah pegang sapu. Tetapi jika mau jujur, mendengar kata perempuan dan laki-laki, berapa persen kemungkinan akan terbayang seorang lelaki memegang sapu, dengan seorang perempuan memegang sapu?” jawaban dari pertanyaan ini mewakili “kehidupan perempuan di Indonesia.”

hahaha... sounds feminist, but i am not that kind... just want to know, what the meaning of being “woman.” hehehe... simone, simone, apa kabar dia di dunia sana? Ketemu lagi gak yah dengan jean paul sartre? Perempuan di mana dan melakukan apa di sana? Di dunia sana, apakah ada dapur? Ada rumah?

ida, paris 17 januari 2009
12.20.2008
Digital Cemetery
Aku bersentuhan kemarin dengan tema salah satu film yang kutonton. Judulnya “digital cemetery” alias kuburan digital. Setelah aku menyadari ada yang salah dengan kabel adaptor laptopku, aku menjadi sangat resah… ini bukan jakarta atau jogja tempat aku bisa mendapatkan headset sekaligus mike dengan harga 15 ribu rupiah… atau segala perangkat elektronik dengan harga yang murah… ini paris, aku hanya tahu bahwa alat-alat elektronik bahkan untuk yang paling remeh sekalipun bisa mahal sekali. Aku teringat film digital cemetery dan yakin sekali bahwa di tumpukan rongsokan-rongsokan komputer amerika yang di import oleh cina, kabel itu pasti mudah sekali ditemukan.

Aku bergegas meninggalkan perpustakaan Jean Pierre Melville, tidak ingin ketinggalan semenit saja, karena aku tidak mungkin bekerja tanpa laptop, dan malam sudah turun…tidak kurang dari dua jam toko-toko akan tutup. Di Darty place d’italie, aku hanya menemukan kabel yang sepaket dengan adaptornya, dengan harga 82,9 euro. Aku berspekulasi untuk mencari kabel sambungan ke arus listriknya saja dulu… akhirnya aku diberitahu, di montgalle, ada banyak peralatan informatika…

aku berlari-lari di tangga metro dengan tas punggung yang berat berisi laptop, berganti line, dan tiba di montgalle dan aku tersenyum melihat tulisan dari toko-toko yang berjajar di atas tangga keluar metro… aku tahu pasti aku akan menemukan apa yang kucari begitu kulihat orang-orang cina di dalam toko itu… baru kali ini aku menyadari orang-orang cina memang dibutuhkan oleh dunia… hehehe…

perempuan cina di salah satu toko memberikan kabel yang kubutuhkan seharga 5 euro, dan dengan seriusnya dia bertanya apakah memang benar masalahnya adalah di kabel itu? Aku mengeluarkan kabelku dan kuperlihatkan besi colokan yang terlihat seperti terbakar… dia setuju dengan analisaku.

Sepanjang perjalanan pulang aku kembali terbayang film digital cemetery, terlebih-lebih dua bule perancis menenteng CPU baru dengan label “made in china.” aku sepertinya tahu bagaimana prosesnya sehingga ada di situ. Aku tersenyum melihat akhirnya kerjaan penuh resiko yang dikerjakan orang-orang miskin cina menemukan harga dirinya di tangan orang perancis… akhirnya mereka berhasil mengubah rongsokan yang dibuang menjadi CPU dengan harga negara maju, di beri label euro!

Film itu cukup tragis, bahwa karena tidak ada pilihan hidup lain, banyak orang-orang cina terpaksa hidup dari memisahkan banyak perangkat-perangkat dari komputer rongsokan yang dibuang oleh amerika dan di impor oleh cina. Semua yang kira-kira masih bisa dipake dipisahkan, dari kabel-kabel kecil sampai kerangka monitor. Apa pun! Bahkan mereka mencari emas-emas kecil di chip-chip dengan cara menghancurkannya dan merendamnya di dalam cairan berbahaya pemisah emas seperti cyanida, dll… asap-asap berwarna yang tebal dan cairan merah-jingga meleleh di mana-mana dari tong-tong tempat besi-besi itu di celupkan…

semua cara dilakukan untuk mendapatkan sesuatu dari rongsokan komputer negara maju itu. Mereka memotong sesuatu, menghancurkan sesuatu, mencuci sesuatu, membakar sesuatu… dan penelitian telah membuktikan bahwa di dalam perangkat komputer banyak terkandung zat-zat berbahaya yang dijelaskan di awal film, mulai dari monitor, sampai ke perangkat paling dalamnya.

Debu-debu menghitam di wajah pekerja, juga di sekujur tubuh anak-anak kecil yang berlarian di sekitar rongsokan itu, yang sudah menjadi perkampungan tempat tinggal mereka. Penghidupan mereka benar-benar tergantung pada rongsokan orang amerika…

pada saat musim hujan, sungai-sungai menjadi berwarna sangat hijau, karena air hujan jatuh ke rongsokan-rongsokan komputer dan mencuci zat-zat berbahaya di dalamnya lalu membawanya turun ke sungai-sungai… testing zat asam membuktikan bahwa kadar asamnya sudah mencapai level paling mentok di kertas lakmus…artinya jika terkonsumsi manusia, tidak akan ada ampun…

sebagai jebolan sekolah lingkungan, aku sudah tidak tahan memikirkan bagaimana dengan akumulasi zat-zat beracun dari hari ke hari di dalam tubuh rentan mereka… belum lagi persoalan akumulasi zat asam dan zat kimia lainnya yang masuk ke air… pada suatu hari akan meresap ke sumur-sumur, dan tidak ada pilihan selain mengkonsumsinya, karena mereka tentu tidak sanggup beli air minum botolan milik negara maju… tidak ada jalan keluar… mereka terpaksa berkutat dengan semua ketidakberdayaan itu… meskipun mereka sadar bahwa pekerjaan mereka berhadapan dengan sampah digital itu membuat mereka sesak nafas, tidak enak badan, dll…tetapi uang cash adalah bayaran untuk tubuh mereka.

So, ini hanyalah satu bukti bahwa marjinalitas itu memang ada… bukan sekedar teori. Mereka terpaksa miskin, karena tidak ada pilihan pekerjaan lain… mereka terpaksa berurusan dengan sampah dan hidup tidak layak di tempat-tempat yang berbahaya… ada sistem yang membuat mereka menjadi terdesak ke pinggir, dan harus bertahan mati-matian di situ… duh, penelitian gue banget! Vulnerability analysis!

Yang menjadi pertanyaanku, kemana larinya komputer baru hasil rakitan dari perangkat-perangkat dan kabel-kabel yang mereka pisahkan? Mungkin “made in china” di CPU dua perancis di depanku semalam adalah jawabannya… jika iya, siapa yang untung? Negara maju atau negara china? Satu yang tidak mungkin, orang miskin di sampah digital itu tidak akan pernah menerima hasilnya.

Dan satu hal yang tidak bisa kujawab, mengapa amerika mengirim rongsokan komputer-komputer itu untuk dihancurkan? Lalu dipisah-pisahkan onderdilnya? Aku yakin bahwa komputer-komputer itu dibuang hanya karena sudah tidak up to date, tapi pasti masih bisa berfungsi dengan sangat baik. Toshiba tecra pentium 2 ku dulu saja masih berfungsi, dan dia sudah mengantarkanku ke paris. Banyak sudah mimpi-mimpi dia antarkan. Jadi aku tidak percaya bahwa rongsokan komputer amerika adalah komputer-komputer jaman dulu yang kunoooooooooo….banget…. gak mungkin!

Komputer-komputer itu kenapa tidak dikirim ke negara berkembang dan miskin, lalu berikan kepada anak-anak untuk dipakai agar mereka bisa mengejar ketinggalan mereka jika memang teknologi adalah standarnya… aku tahu betul betapa mewahnya komputer bagi banyak sekali orang di belahan bumi selatan… ada banyak orang yang mati tanpa pernah liat komputer sebenarnya seperti apa… di saat di negara maju, semuanya serba computer…

jadi, aku mempertanyakan, apakah benar negara maju seperti amerika benar-benar ingin dunia ini berjalan dengan agak adil? Mungkin tidak… karena mereka akan kehilangan tenaga kerja murah, dan orang-orang bodoh yang akan melanggengkan sistem yang sudah ada ini… siapa yang akan mengerjakan hal-hal kotor yang tidak mau mereka kerjakan jika tidak ada orang miskin di bumi ini? Aku pikir penjajahan bermula dari prinsip dasar sederhana ini…

menyakitkan memang mendengarnya, tetapi inilah kenyataan yang harus dihadapi. Bahwa dunia kita berjalan seperti ini… dan kabel 5 euro hasil cucian entah siapa di cina sana, telah membuat tulisan ini ada… terima kasih pada rongsokan komputer amerika atau pada orang-orang marjinal di “digital cemetery” di cina? Whatever… aku sakit punggung kebanyakan ngetik… gara-gara kabel juga nih (hehehe, dua sisi mata uang)…

anyway, aku ingat bapakku dulu sering minta dipijitin karena punggungnya sakit katanya kebanyakan nulis… aku sekarang tahu itu memang benar-benar sakit… maaf yah pak, sering ogah-ogahan mijitnya…sekarang giliranku pak… tapi tidak karena menulis pake tinta, karena komputer dong… lebih keren kan?! Sakit punggung sebelah kanan karena kebanyakan ngetik di laptop…

wah, jadi ngelantur nih…udah jam tidur…

ida, paris, jumat 19 desember 2008 (mengingat film “digital cemetery” di festival film environment, november 2008)

12.13.2008
ham- BURGER (DECLARATION OF Mc-Donald)
Di Paris, sepertinya aku bisa mengharapkan banyak hari-hari aneh yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya... seperti malam ini. Bersama daniel “the cambridge man” yang baru kujemput di gare de lyon sore tadi, tempat tujuan pertama di paris adalah eifel malam hari... yah menara telkomsel ala perancis yang terkenal itu. Ada segerombolan orang di trocadero, dengan lampu sorot yang terang di lapangan antara dua building museum hak asasi manusia, orang-orang melingkar rapat, dan kameramen-kameramen televisi di mana-mana. No idea ada apa, aku hanya terus mendekat, dan melihat ada semacam podium transparan di tengah dengan latar belakang menara eifel yang bersinar biru dengan bintang-bintang kuning uni eropa-nya.

Seorang cewek kulit hitam yang baik hati dengan sangat niat memegang lenganku dan menunjukkan ada celah untuk merangsek ke depan. Aku ke depan, dan rupanya acaranya adalah “deklarasi hak asasi manusia.” aku terbayang dulu ketika SD, human right dan PBB dan semacamnya adalah seperti membayangkan planet yupiter atau merkurius, sama-sama asingnya dan menjadi sekedar hapalan hampa yang jauh... tidak mengerti untuk apa, tetapi rasanya kampungan banget kalo tidak tahu. Hebat yah, anak SD jaman dulu.... hehehe...

kembali lagi mereka menegaskan komitmen untuk menjunjung tinggi HAM, dan aku tertawa kecil, dengan kesinisanku yang entah mengapa semakin subur... “oh yah? HAM? Di tengah udara 0-2 derajat, dengan latar belakang menara eifel?! Kenapa tidak di tanah kering afrika yang antah berantah sana? Di Rwanda, atau di Kenya, atau di Serbia....

Aku bilang pada daniel setelah itu, “ini sekedar sandiwara...” walaupun sambil tertawa-tawa, aku serius mengatakannya. HAM... tolong deh, jangan malam ini, aku tidak sedang mood untuk ber-romantisme dengan istilah-istilah kosong seperti itu... aku bahkan sampai tidak tahu lagi bagaimana meng-ekspresikan mengapa aku tidak percaya pada istilah HAM, karena begitu banyak yang ada di otakku...

di tembok bangunan le droit de l'homme, dengan canggihnya muncul gambar-gambar mozaik wajah orang-orang... portrait-portrait... semuanya sedang tertawa atau tersenyum. Entah mereka siapa, mungkin pahlawan HAM dunia... tidak ada wajah orang indonesia di sana... tidak ada munir, tidak ada wajah jutaan orang yang mati karena pengorbanan dan permainan politik untuk merebut kekuasaan dan mempertahankannya... bagaimana aku bisa percaya pada acara simbolis itu di saat pada waktu yang sama anak-anak di negara miskin harus mati dalam jumlah yang sudah bisa dipastikan... HAM apaan kalo dunia semakin banyak yang miskin dan lapar... jangan bicara HAM di saat biaya acara gak penting itu bisa menyelamatkan nyawa anak-anak di belahan dunia lainnya pada saat yang bersamaan...

dunia kita adalah dunia publikasi semata... jadi, yang nyata dari deklarasi HAM adalah sisa-sisa kabel yang harus di gulung, kursi merah yang harus di angkat, podium yang harus di bongkar... tidak lebih dan tidak kurang dari “usainya acara perkawinan di kampung.” mungkin dulu saat le droit de l'homme (HAM) di deklarasikan pertama kali 60 tahun lalu, semangat publisitas dan romantisme picisan yang sama yang ada... jadinya yah, beginilah, kita akan jadi bubur... karena pejuang HAM yang beneran tidak akan punya waktu menghapal script dan mendengungkannya dengan nada-nada dramatis. Tidak akan ada waktu untuk membuat acara deklarasi se-wah itu... beberapa di antara mereka membayar nilai murni dari HAM dengan nyawa-nya, dan bahkan nama mereka tidak sempat tercatat dalam sejarah...

aku tidak skeptis dengan nilai HAM, tetapi curiga bahwa HAM menjadi barang dagangan saja sekarang... aku memang mungkin sedang malas berpikir positif...

entahlah, aku tertawa-tawa saja, berputar-putar di trocadero menari dengan musik yang diputar setelah acara berakhir saat orang-orang mulai lengang...dengan latar belakang eifel biru... dengan seorang teman “cambridge student” yang tertawa-tawa mendengar komentar-komentar sinisku yang sangat tidak fisika... dan rentetan cerita-cerita yang berhamburan seperti kembang api... melesat lalu pecah...
di bangku taman, di bawah pohon yang tidak ada daun tersisa di rantingnya, dan menara eifel begitu dekat...sampai dingin membekukan kaki dan kami pun pulang...

HAM biarlah jadi urusan pak menara eifel yang menyelesaikannya... aku percaya pada besi abu-abu itu...

ida, Paris 10 december 2008 (holiday with daniel, no references please...)